Review The Great Muslimah karya Hanny Dewanti

Identitas Buku

Judul : The Great MuslimahPenulis : Hanny Dewanti dan Penulis LainPenerbit : Penerbit Ikon

Tahun : Juli 2019
Tebal : XV+224 HalamanISBN : 978-602-51563-4-2
Harga : Rp 84.000,00 (Pulau Jawa)

Rating : 4/5 ⭐

***

“Muslimah terbaik adalah muslimah yang berbahagia atas apa yang ditetapkan Allah padanya. Muslimah terbaik adalah muslimah yang berjalan di muka bumi dengan membawa kebaikan bagi orang lain. Muslimah terbaik adalah muslimah yang tahu bagaimana cara membawa dirinya di tengah pergaulan masyarakat plural. Muslimah terbaik adalah muslimah yang paham bagaimana menyikapi perbedaan.” (Hal. 212)

***

Hallo Assalamualaikum, kali ini aku ingin mereview buku yang ditulis oleh beberapa penulis secara ‘keroyokan’ ini dan meskipun mengusung tema tentang perempuan muslim/muslimah, di dalam buku ini juga menyajikan tulisan para Ikhwan/lelaki dengan range usia 18-35 tahun, dari beragam profesi yang turut ikut ambil bagian. Terlebih lagi, mereka dimintai pendapat soal muslimah yang ideal untuk dijadikan istri itu seperti apa sih?

***

Muslimah itu manusia. Baik dan buruknya ia akan selalu menjadi sorotan bagi khalayak. Nah, ada satu hal yang mungkin sangat dianggap wajar yaitu ketika muslimah berbuat baik. “Wajar lah! Kan dia muslimah, sudah sepantasnya berbuat baik.”

Nah, bagaimana kalau mereka berbuat tidak baik? Atau bahkan khilaf sekedar keliru. Sudah bisa dipastikan akan ramai bukan? “Duh, pakai kerudung kok begini, begitu…”

Padahal muslimah yang mengenakan kerudung adalah yang memilih menjalankan syariat. Dan perbuatan atau kata-kata seorang muslimah adalah hal lain yang seharusnya tidak dicampuradukkan dengan dengan hijabnya.

***

Buku ini menjelaskan bagaimana menjadi muslimah yang baik. Baik menurut kacamata agama, tentu saja. Karena sekalipun penilaian orang lain terhadap kita tidak baik, jika Allah ridho, lantas kita akan memilih yang mana? Tentu saja ridho Allah yang utama bukan?

Muslimah disiapkan sebagai calon istri dan ibu seseorang maka ia haruslah memiliki ketinggian ilmu agar pendidikan yang nantinya diberikan di dalam rumahnya berjalan dengan lancar.

Oleh karenanya, muslimah diminta untuk tidak hanya sibuk mengupgrade kecantikan ala selebgram/artis tetapi juga harus rajin datang ke majelis ilmu. Dengan adanya teknologi, kemudahan belajar menjadi semakin mudah. Maka jangan sampai kita asyik menyimak gosip artis di akun perlambean namun enggan untuk sekedar membaca materi kajian, itu pun secara online.

***

Kepada siapa buku ini aku rekomendasikan? Kepada para singlelilah yang sedang berjuang menemukan jodoh terbaiknya, untuk para ibu yang sedang berjuang menjadi pemimpin dalam rumahnya.

***

Perasaanku ketika membaca buku ini adalah sedih, haru, sekaligus tertampar karena nasihat yang penulis berikan begitu mendasar dan memang benar adanya. Terselip pula kisah-kisah para muslimah tangguh dengan beberapa kisahnya yang sangat menginspirasi.

REVIEW IF I COULD TURN BACK TIME – TIARA

Identitas Buku

Judul : If I Could Turn Back Time

Penulis : Tiara

Penerbit : Dolce Media – Imprint Pustaka Kendra

Tahun : 2019

Tebal : Vi+366 Halaman

ISBN : 978-6-23-734710-1

Genre : Romance

Blurb

Seandainya bisa memutar balik waktu, Flora berharap tak perlu berbohong bahwa Dicko telah merenggut kesuciannya. Seharusnya dia juga tak boleh jatuh cinta pada lelaki itu.

Seandainya bisa memutar balik waktu, Dicko berharap tak pernah menyakiti Flora dengan kecerobohannya. Seharusnya dia juga menyadari lebih awal tentang perasaan gadis itu terhadapnya. Begitu pun perasaannya….

Tapi mereka bisa apa?

Mampukah keduanya menyatukan kembali kepingan hati yang retak meski harus mengempaskan ego masing-masing?

Review

Tidak ada kebetulan di dalam hidup. Flora dan Dicko ternyata memiliki benang merah dari masa lalu mereka, hanya saja mereka tidak tahu : rahasia tentang orangtua mereka.

Novel ini bercerita tentang kehidupan dua anak korban broken home : Flora dan Dicko, hanya saja keduanya memiliki cerita yang berbeda. Flora merasa tidak bahagia, Dicko sebaliknya. Flora memilih menjadi anak bengal dan Dicko menjadi anak yang sadar ia sangat mudah diterima keberadaannya.

Apakah keduanya bertentangan satu sama lain? Benar, pada awalnya. Lambat laun atas permintaan sepupu Dicko sekaligus adik tiri Flora mereka harus ‘berpura-pura’ menjadi sepasang kekasih, bahkan bertunangan. Tapi sampai kapan?

Turn Back Time adalah sebuah jam yang disetel mundur hingga mengingatkan sebuah momen yang perlu di kenang di masa lalu. Semenjak di SMA Dicko dan Flora telah bertunangan, dan Farrel memberikan hadiah berupa jam tangan langka ini kepada keduanya. Dan diam-diam ia menyetel jam tangan itu 7 tahun mendatang, apakah tujuan Farrel sebenarnya?

Membaca novel ini seperti memakan kue lapis aneka rasa. Aku turut merasakan nyaman ketika Flora berada dalam pelukan Dicko, aku ikut menangis ketika Flora merasa sendirian dan merasa ditinggalkan. Bagiku rasa manis dan pahitnya belum seimbang, tapi justru disitulah kenikmatannya. Aku suka setiap momen sedih yang coba penulis hadirkan. Terasa nyata 😍

Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini adalah orang ketiga. Then, antara percakapan, narasi dan deskripsi cukup seimbang. Karena bersetting di Jakarta percakapan didominasi dengan gue-lo.

Alur yang dipakai maju mundur, namun aku cukup terbantu dengan adanya keterangan waktu yang dicantumkan di bagian-bagian tertentu.

Secara keseluruhan aku suka novel ini karena diksinya bagus meskipun ide ceritanya sederhana dan berpusat pada orang-orang itu saja. Memberikan kesan bahwa dunia ini sempit dan saling berhubungan satu sama lain.

Bagian yang aku kurang suka adalah di bagian sub babnya yang menggunakan kutipan berbahasa Inggris dari awal hingga akhir. Meskipun itu sudah disesuaikan dengan isi setiap babnya, entah kenapa itu justru membuatku terasa jenuh.

Ah, kalian mencari novel yang berasal dari wattpad dan sudah dibukukan? Novel ini aku cukup aku rekomendasikan buat kalian karena meskipun tebal, novel ini akan membuat waktu kalian seolah habis tersita dengan terus menyimak kisah dalam novel ini.

Review Novel Now Us – Aiu Ahra

Identitas Buku

Judul : Now Us
Penulis : Aiu Ahra

Ilustrator : Alin Hajar Pramesti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2019
Tebal : 264 Halaman

ISBN : 978-602-063-2049
Harga : Rp 77.000,00
Rating : 4/5 ⭐
.

Blurb

Semula hanya ada Jia dan Sekai. Jia selalu mengikuti apa pun keinginan dan pilihan Sekai. Namun, jauh di lubuk hati, Sekai tidak menyukai sikap Jia tersebut.Saat memasuki kelas sebelas, Sekai meminta Jia memulai mencari teman baru. Ada Kinal, si gadis dingin. Cowok aneh bernama Alden. Juga sepasang mantan sahabat, Tobi dan Alin. Mereka semua memiliki latar belakang masalah masing-masing.Pengumuman seleksi study exchange di Australia mengantar mereka untuk mempersiapkan ujian bersama-sama. Karena terlalu sering bersama, konflik tidak bisa dihindari. Juga perasaan suka.Dalam persahabatan, mereka berusaha memaafkan masa lalu, melukis masa depan, dan menyambut perasaan spesial yang tidak lagi meminta untuk bersembunyi.

.

Review

Pernahkah kalian merasa kesepian atau memilih menyepi karena ingin sendiri?Pernahkah kalian merasa bahwa bercerita itu melegakan?Pernahkah kalian merasa bahwa manusia itu membutuhkan satu sama lain?.Jia belum berdamai dengan masa lalu atas hubungan ayah dan ibunya.Sekai menyimpan rahasia tentang kematian adiknya dari semua orang, termasuk dari Jia –yang diakui sahabatnya. Ia memilih bersembunyi dan berkubang dengan rasa bersalah.Kinal merasa menjadi penyebab sang ibu meninggalkan ayahnya, dan dengan susah payah menerima calon ayah barunya.Alden. Sejak kematian ibunya, hubungan ayah dan kakaknya –Varo memanas. Alden pun turut menjauhi sang ayah, bingung hendak memulai.Tobi dan Alin, bersahabat sejak kecil. Tapi karena dibully dengan alasan hanya bersahabat dengan perempuan, Tobi memilih meninggalkan Alin. Alin dan Tobi sama-sama merasa kehilangan. Namun, tak banyak yang bisa mereka lakukan karena jarak yang sudah tercipta.

.

Novel ini bertema persahabatan yang diwarnai dengan isu keluarga, romansa dan pencarian jati diri. Diksi yang digunakan oleh Kak Ayu sangat mengalir dan membawa aku masuk ke dalam ceritanya.

Alur yang digunakan sepenuhnya maju. Mudah, simpel, dengan plot yang cukup rapat sehingga membuatku tidak memikirkan hal lain ketika menikmati bab demi babnya.

Setting digunakan novel ini adalah kota Jakarta.

Konflik yang disuguhkan dalam novel ini pelan-pelan disuguhkan, pelan-pelan (pula) diselesaikan. Aku suka banget, nggak membuat depresi padahal kalau menilik ceritanya cukup berat.Selain itu didukung dengan visual melalui Ilustrasi yang lucu, gemas dan mendukung adegan yang berusaha ditonjolkan oleh penulis.
.

Kesan yang aku dapat setelah membaca novel ini adalah secara keseluruhan novel ini sangat menghibur dan memberikan pesan moral yang sangat menyentuh.

Pesan moral yang aku dapat setelah membaca novel ini adalah bahwa kehidupan remaja sangat rentan dengan isu sosial. Membutuhkan pendampingan orangtua sebagai ‘teman’. Dan membutuhkan teman bercerita untuk sekedar mendengarkan.Sekian, semoga reviewku bermanfaat. Terimakasih sudah mampir dan mohon maaf atas segala kekurangan. Tinggalkan pesan dan kesanmu di kolom komentar ya.

Review KKN Di Desa Penari – Simpleman versi Cetak yang Lebih nyaman dibaca

Identitas Buku

Judul : KKN Di Desa Penari

Penulis : Simpleman

Penerbit : Bukune

Tahun : 2019

Tebal : 256 Halaman

ISBN : 978-602-220-333-9

Rating : 3/5 ⭐

Harga : Rp 77.000,00

.

Blurb

Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan caaya yang meski temaram bisa dilihat jelas oleh mata.

“Mbak…kita sudah sampai di desa.”

Dari kisah yang menggemparkan di dunia maya, KKN di desa penari kini diceritakan lewat lembar-lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur dan kawan-kawan serta bagian-bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya.

.

Review

Hallo, assalamualaikum ReaDears! kali ini aku bakal sedikit berbagi pengalaman membaca novel yang berawal dari utas di Twitter. Yuk simak.

Ide cerita novel ini sebetulnya sangat sederhana. Ada sekelompok mahasiswa yang akan menjalankan kegiatan KKN di sebuah desa.

Sekelompok mahasiswa itu diwakili melalui karakter Ayu yang seolah mendominasi namun tidak banyak diceritakan, Widya yang memiliki sifat terbuka sehingga apa-apa yang ia rasa dan pikirkan selalu ia kemukakan. Ada pula Nur, orang yang juga senasib dengan Widya : bisa merasakan sesuatu yang ‘berbeda’ namun memilih diam dan hampir selalu menghindar jika disinggung hal itu.

Dari sosok lelaki diwakili oleh Wahyu yang suka berkelakar. Ada pula Bima yang dibilang ganteng, anak pondok, namun entah mengapa ia justru ‘bertingkah’ ketika di desa. Diceritakan pula sosok Anton yang merupakan teman Wahyu, mereka berdua adalah kating keempat anggota lainnya. Anton ini hanya muncul sesekali namun tidak terlalu berperan.

Mengambil setting di Jawa Timur, Jember KKN Di Desa Penari menjadi sangat kental aroma Jawa, mistis dan penuh aroma mitos.

Jika banyak yang bertanya. Apa perbedaan yang nyata antara novel dan versi utas maka akan ku jawab dalam beberapa poin. Pertama, jika kalian menginginkan rasa nyaman ketika menikmati sebuah cerita maka bacalah versi cetaknya. Namun, bagi pecinta horor membaca versi utas lebih terasa mencekam.

Karena apa? Memang ada beberapa bagian yang ditambahkan, namun juga ada beberapa yang dikurangi karena melalui proses penyuntingan.

Untuk sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga dengan tokoh sentral Nur dan Widya. Aku lebih suka membaca bagian Nur karena terasa lebih rapi dan runut. Namun, terasa membosankan karena bagian untuk Widya lebih dulu diceritakan dan cerita dari Nur sebetulnya adalah pengulangan dari cerita Widya, meskipun tidak semuanya.

Alur yang digunakan dalam novel ini sepenuhnya maju, dengan konflik yang sebetulnya masih bisa dikembangkan.

Kesan yang aku dapat adalah novel versi cetak lebih nyaman dibaca, namun tidak lebih horor dari versi utasanya.

Pesan yang ingin disampaikan dalam novel ini adalah dimana pun kita berada menjaga diri dari hal yang bisa merusak itu sangat diperlukan. Tidak menyepelekan sebuah nasihat.

Aku pikir cukup sekian ya, kalian bisa mengombinasikan review novel ini di akun IGku : @yuniasih_warjui dan blog karena sebagian ada yang sudah ku tulis di IG, namun tidak ku ulang di blog dan begitu juga sebaliknya.

Review Novel : Cinta Subuh – Alii Farighi

picsart_09-06-045070254969491897087.jpg

Identitas Buku
Judul : Cinta Subuh
Penulis : Alii Farighi
Penerbit : Coconut Books
Tahun : 2019
Tebal : 292 Halaman
ISBN : 978-602-671-4527
Harga : Rp 85.000,-
Rating : 4/5 ⭐

Biografi Penulis

Muhammad Ali Ghifari, lahir di Jakarta pada 2 November 1990. Seorang Ayah, suami, dan hamba yang merangkap pekerjaan sebagai pemimpi. Suka akan tulisan-tulisan yang mudah dipahami dan penuh insprasi

Blurb

Angga baru saja putus cinta, untuk kesekian kali. Bedanya, kali ini dengan mudah ia lupakan mantan pacarnya. Sebabnya Ratih, perempuan seusianya yang wajahnya menjadi tempat berkumpul cahaya.

Tapi Ratih bukan seperti perempuan muda umumnya, prinsipnya ketat membatasi hubungan istimewa di antara lawan jenis. Ratih punya prinsip, tak akan memberi ruang bagi siapa pun laki-laki yang mengajak pacaran. Bukan hanya agama alasannya, ada perhitungan matematis yang membuatnya harus berpikir ribuan kali sebelum resmi menjalin hubungan tidak resmi dengan lawan jenis.

Angga yang tidak mudah menyerah berusaha melakukan yang terbaik agar Ratih membuka hati untuknya. Kehadiran cowok unik ini sedikit banyak membuat Ratih mengkaji ulang prinsipnya.

Review

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata : pacaran syari? Nah, novel ini mengangkat tentang topik dua sisi kehidupan anak manusia dalam sosok Ratih dan Angga yang ingin baik di hadapan Tuhannya, namun tetap menginginkan kenikmatan duniawi yaitu pacaran.

Apa saja yang mereka lakukan supaya tidak melewati batas? mereka membuat peraturan bersama yang harus mereka patuhi untuk saling menjaga satu sama lain, hingga mereka menikah. Pengen tahu apa saja peraturan yang mereka sepakati berdua?

1. Tidak ada kontak fisik sama sekali.
2. Tidak boleh ada pemborosan biaya selama pacaran.
3. Tidak boleh meninggalkan salat selama sedang jalan bareng.
4. Harus ada kegiatan positif yang dilakukan kalau bertemu.
5. Hubungan ini tujuan akhirnya pernikahan.
6. Tidak boleh ada seorang pun yang boleh tahu hubungan kami, baik keluarga dan teman kuliah.
Ratih – Angga (Hal. 168-169)

Perjumpaan Angga dan Ratih sangat tidak umum untuk disebut sebagai sesuatu yang diinginkan oleh pihak perempuan. Kenapa begitu? Ya, gimana nggak! Orang buru-buru mau salat ke masjid malah ditodong kenalan sama cowok yang nggak dikenal.

Tapi berbeda dengan Ratih, Angga justu menyebut itu sebagai suatu pertanda baik. Mengingat tempat mereka bertemu adalah di masjid. Dan Angga dengan semangat juang 45, dan sangat yakin bahwa Ratih adalah jodohnya.

Ratih dan Angga akhirnya pacaran tetapi disertai klausa perjanjian. Tak terasa mereka melakukan kebiasaan yang biasa dilakukan oleh layaknya pasangan kekasih. Jalan-jalan berdua, nonton, ngobrol ngalor ngidul sampai lupa waktu bahkan teman.

Ya, protes keras didapatkan Ratih dari kedua sahabatnya yaitu Tari dan Harsi. Ratih bukan saja melanggar omongannya sendiri untuk tidak berpacaran, nyatanya pacaran juga merenggangkan hubungan persahabatan mereka.

Meskipun demikian, Ratih tetap merahasiakan hubungan ini dari keluarga dan teman sekampus (minus) dua orang sahabatnya. Dia tetap menjadi aktivis yang sering mengikuti kegiatan seminar dan sejenisnya.

Nah, beberapa kali Ratih juga terlibat kegiatan bersama Arya. Siapakah Arya? Sosok yang sangat dikagumi Ratih sejak pertama kali masuk ke kampusnya. Akankah rasa kagum itu berubah menjadi suka? Siapakah yang akhirnya Ratih pilih seandainya Arya mengungkapkan rasa suka kepadanya?

Oke, sampai disitu saja aku retelling isi novel ini ya. Sekarang saatnya mengupas satu per satu apa yang menjadi nilai dalam sebuah novel.

Secara gaya bahasa novel ini disajikan sangat ringan. Novel ini bisa dinikmati bagi kalian yang berusia diatas 15 tahun.

Alur yang dipakai cenderung maju. Selain bahasa narasi, novel ini juga menyajikan percakapan melalui pesan singkat dari Ratih dan Angga.

Setting tempat yang digunakan dalam novel ini adalah Jakarta. Tanpa menyebut nama institusi mana pun, kampus Ratih terkesan kecil dan berputar di lingkup itu-itu saja.

Sudut pandang novel ini menggunakan dua sudut pandang. Aku sebagai Ratih dan juga Angga.

Konflik yang terjadi diantara mereka begitu natural dan lebih kepada konflik batin para tokohnya. Masalah yang terjadi bersumber pada salat subuh Angga yang tidak tepat waktu bahkan cenderung mendekati waktu dhuha, dan itu tidak berubah hingga berbulan-bulan mereka pacaran. Ratih tidak suka dan Angga merasa tidak dihargai.

Karakter yang menurutku paling kuat adalah Angga. Dia cenderung stabil dari awal bab hingga akhir. Untuk karakter Ratih sendiri menurutku cenderung kurang konsisten. Karena digambarkan sangat baik attitudenya, ada satu adegan di atas sepeda motor Angga, dimana aku dibuat kaget oleh perilaku Ratih. Ini Ratih beneran apa bukan sih?

Kelebihan Aku suka novel ini karena dtuturkan secara santai namun sarat pesan kebaikan yang mendasar. Rasanya seperti diberitahu, tapi tidak digurui.

Nah, menurutku kekurangan dari novel ini adalah terdapat mix and match kata-katanya yang kurang pas. Tidak seberapa mengganggu memang, tapi akan lebih terasa bersih.

Yey! Finally, selamat malam Kamis. Semangat bangun pagi ya, biar Subuhnya nggak kesiangan kaya Angga.

Review Novel Espresso – Bernard Batubara

Identitas Buku

Judul : Espresso

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit : Gagas Media

Tahun : 2019

Tebal : x+306 Halaman

ISBN : 978-979-780-946-1

Harga : Rp 88.000,- (Pulau Jawa)

Rating : 3.5/5 ⭐

Blurb

Hai, kehidupan! Terkadang aku bertanya-tanya mengapa kau keras sekali terhadapku. Sering menempatkanku di posisi sulit. Padahal, kau tahu, kan bahwa gadis seumurku seharusnya masih menikmati akhir masa remaja?

Hai, cinta! Aku tak punya momen bersamamu. Namun, izinkan aku bertanya satu hal ; mengapa kau selalu hadir bersama luka? Ah, bagaimanapun aku harus berterima kasih kepadamu karena sudah memperkenalkanku pada sesuatu yang kunamai impian dan harapan.

Hai, secangkir Espresso! Terimakasih sudah membuatku hampir menyerah. Kalau bukan karena perjumpaan kita di kedai kopi milik Bisma itu, tak mungkin saat ini aku gigih sekali memperjuangkanmu, menjadi yang terbaik. Terimakasih ketika kehidupan dan cinta tak henti mengecewakanku, kau tetap ada di sepanjang waktu.

Review

Hallo, apa kabar kalian? Kali ini aku akan sedikit berbagi keseruanku mengikuti kisah Lulu –si Barista Siluman. Nah, gimana setelah membaca Blurb di atas? Apakah kalian tertarik menyimak lebih jauh lagi seperti apa reviewku kali ini? Yuk, ah biar nggak nanggung baca sampai abis ya gengs! 😚

Ini adalah pengalaman pertamaku membaca karya Mas Bara, tapi Fyi ya Mas Bara adalah salah satu penulis Indonesia yang bisa dibilang sangat produktif, karena sampai saat ini setidaknya 15 buku telah ia tulis dan ia terbitkan melalui berbagai penerbit.

Untuk buku Espresso sendiri bisa dibilang buku pertama yang ia garap bersama para pembaca setianya di platform storial. Jadi, ia mengakui bahwa komentar para pembaca cukup memengaruhinya ketika mengeksekusi jalan cerita novel ini.

Nah, apa impresi pertama kalian ketika melihat novel dengan sampul warna pink –seperti Espresso ini? Kalau aku jujur ya, auto love-love gitu lah. Kebayang ceritanya akan seperti apa, but aku cuma manusia gengs! Dan aku salah karena menilai novel ini cuma berdasarkan warna sampulnya.

Sangat di luar ekspektasi, tapi justru disitu daya pikat novel ini. Novel ini menawarkan sebuah kisah seorang Lulu yang awalnya tidak mengerti arti berjuang, karena selama ini dia hanya tahu cara bersenang-senang.

Lulu yang terbiasa hidup mapan, terpaksa harus memenuhi ‘tantangan’ sang ayah karena telah merusakkan mobil yang biasa Lulu pakai, padahal yang sebetulnya harus bertanggung jawab adalah Dean (pacar si Lulu).

Apakah tantangan yang diberikan oleh Sang ayah kepada Lulu? Ia diminta menghabiskan waktu liburan kelulusannya di Jogja dengan menjadi pegawai di sebuah kedai kopi kecil yang dimiliki oleh seorang pemuda bernama Bisma.

Ada hubungan apa Bisma dengan Lulu? Meraka tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali, tapi perhatian kecil Bisma itu membuatku salah paham. Apakah Lulu juga merasakan hal yang serupa denganku? Coba tanya sama Lulu! πŸ˜›

Ayah dan Ibu Lulu menganggap Jogja sebagai tempat terbaik untuk pulang, namun sepertinya Lulu tidak sepakat dengan hal itu. Apa yang diharapkan oleh orang yang terbiasa hidup di kota metropolitan, lalu berpindah ke Jogja? Bertemu kuda dan bermain pasir –copas Lulu. Dan kopilah yang mempertemukan kedua orangtuanya. Kopi dan Jogja.

Pertama kali Lulu menikmati secangkir Espresso dan melihat cara membuatnya merubah pandangan hidupnya, ternyata membuat kopi tidak semudah yang ia kira selama ini. Dan, dari situ lah Lulu mulai menentukan kemana ia akan ‘melangkah’?

Setelah Lulu yakin, bahwa menjadi Barista adalah cita-citanya. Ia justru ditemui oleh seorang sahabat ayahnya (Jeremy) yang memberikan saran agar Lulu tetap tinggal di Jakarta dan melanjutkan kuliah dia. Perkara menjadi Barista bisa ia lanjutkan sebagai hobi, alih-alih profesi utama.

Lulu menunda sejenak mimpinya, sampai ia menemukan informasi tentang adanya lomba fun brewing. Ia merasa tertantang dan ingin mencoba. Dari situlah, Lulu bersama Dean menemui kakaknya yang mengelola kedai kopi Metropolis.

Dan, ternyata disitulah ia bertemu kedua kalinya dengan Salma (orang dari masa lalu Bisma) yang menjadi kapten bar di kafe metropolis. Di kesempatan pertama, Lulu bertemu Salma pada sebuah kompetisi fun brewing di Jogja. Dari situlah kemudian Lulu mencari sponsor, mengabdi dari satu kedai kopi ke kedai lain demi mendapatkan pelatih terbaik, hingga ia berhasil menjuarai kompetisi nasional Barista, meski hanya di posisi ketiga.

Tokoh dan Penokohan dalam novel ini cukup kuat dan konsisten. Seperti Lulu yang digambarkan sebagai seorang pengamat, dia belajar dengan sangat cepat hanya dengan melihat.

Selain ada tokoh Lulu, Bisma (Barista Kuasa Kopi), Salma (Kapten Bar Metropolis) ada juga Dean (pacar Lulu), Nugi (barista di Kuasa Kopi), Lena (pacar Nugi), Cik Kat (owner No. 72 Coffee) dan Aldi (Pimpinan Olfactory Coffee & Lab). Mereka di munculkan satu demi satu di kehidupan Lulu secara mengagetkan dan mengecohku. Hampir di setiap pemunculan karakter baru, membuatku salah menebak πŸ˜†

Gaya bercerita Mas Bara bisa dibilang cukup natural, semua proses pembuatan kopi dari A-Z dijelaskan dalam percakapan antar tokoh sehingga membuat jalan cerita tidak terkesan kaku. Diksinya pun oke, beberapa kutipan cukup ‘menggigit’ dan unik.

Alur yang ada dalam novel ini menurutku cepat, dimana terkadang aku merasa bahwa pergantian scene demi scene seperti diskip begitu saja.

Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini pure sudut pandang orang ketiga dari segi penulis sebagai pencerita.

Kelebihan yang cukup menonjol adalah twist yang dihadirkan dalam novel ini yang membuatku serasa ingin kembali ke awal, benarkah aku tidak melewatkan barang satu paragraf saja?

Nah, disamping itu ada kekurangan yang cukup menonjol yaitu penggunakan kata –kita yang menurutku seharusnya tertulis –kami. Cukup fatal sih menurutku, meskipun tetap tidak mengurangi esensi cerita.

Buat siapakah novel ini aku rekomendasikan? Buat kalian penyuka kisah young adult, penyuka kopi, orang yang membutuhkan referensi bacaan tentang kopi, dan penyuka kisah yang tidak menye-menye.

Kutipan :

“Kopi itu ada banyak macem rasanya. Tapi cuma ada dua yang paling dasar. Rasa yang diinginkan dan rasa yang tidak diinginkan.” –Salma (Hal. 103)

Review Bumi – Tere Liye

Identitas Buku

Judul : Bumi

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Januari 2014

Edisi : Cetakan Ke-12 (Agustus 2016)

Tebal : 440 Halaman

ISBN : 978-6020-332956

Rating : 4.5/5 ⭐

Dibaca Melalui : Gramedia Digital

.

Sinopsis

Raib adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang duduk di kelas 10 dan biasa dipanggil dengan Ra. Ia memiliki sahabat karib bernama Seli dan memiliki kawan debat yang seimbang yaitu Ali.

.

Yang ia tahu, ketika ia menutupkan kedua telapak tangan ke mata, maka orang tidak bisa lagi melihat wujud fisiknya. Cling! Menghilang begitu saja, tapi ia pun tak tahu, apa yang sebetulnya terjadi.
.

Ia hanya tahu, semenjak usianya 2 tahun, ia sering bermain petak umpet dengan cara begitu, dan sudah barang tentu mama-papa tidak akan bisa menemukan keberadaannya.

.

Ia hanya remaja biasa, yang suka membaca novel, pernah lupa membawa buku PR, menyukai ritual makan bersama keluarga, dan mengingat betul setiap detail nasihat yang diberikan sang mama, poin per poin.

.

Meskipun mencoba pura-pura tidak tahu, sebetulnya ia memahami apa yang terjadi di kantor sang papa, ia mencuri dengar ketika mama dan papanya saling bertukar cerita.

.

Berdiri di anak tangga, menutupkan kedua telapak tangan ke mata, maka apa yang papa dan mamanya bicarakan bisa ia dengar tanpa berkurang sedikitpun.

.

Belum ada yang mengetahui tentang kemampuan yang ia miliki, sampai pada suatu hari ia lupa membawa buku PR. Ali yang super genius malah tidak membuat PR sama sekali.

.

Karena Raib bosan duduk di lorong sekolah sepanjang sisa jam pelajaran matematika habis, ia iseng mencoba menutup kedua matanya.
.

Dan, sial! Ali tahu persis apa yang terjadi, Raib yang semula tak tertangkap matanya, tiba-tiba ada di depannya. Ia pun berseru dengan penuh keyakinan : “Kamu bisa menghilang Ra?”, dan dengan itu pula resmi sudah Ali memata-matai setiap gerak-gerik Raib. Bahkan, dengan cara yang cukup ekstrim yaitu memasang kamera pengintai di rumah Raib.

.

Kejadian lainnya terjadi ketika Raib bermaksud mengantar sahabatnya, si Seli yang entah kenapa suka sekali jajan di kantin. Mereka lupa bahwa kantin tutup karena sedang ada perbaikan gardu listrik yang berdiri di dekat kantin.

.

Kejadian itu begitu cepat. Raib dan Seli pun hanya mengandalkan reflek mereka untuk melindungi satu sama lain. Ketika tahu kantin tutup mereka bermaksud mencari restoran cepat saji di dekat sekolah. Namun, siapa yang menyangka tiang listrik yang besar itu tiba-tiba roboh dan hampir menimpa keduanya?

.

Dengan kekuatan yang sudah ia coba latih atas permintaan Tamus, Ra menghilangkan tiang listrik yang hampir menimpa keduanya. Seketika Seli pun mematung, belum selesai rasa terkejut mereka, ada kabel yang sarat dengan muatan listrik menyusul roboh ke arah mereka.

.

Kali ini, Seli lah yang berusaha melindungi mereka berdua. Seli yang ternyata memiliki kemampuan untuk mengeluarkan energi listrik dari tangannya, menaklukkan kabel itu tanpa takut sedikit pun.

.

Mereka hanya lecet dan cidera ringan, namun ledakan yang mereka hasilkan tetap saja mengundang orang-orang berdatangan. Apa kiranya yang terjadi?

.

Nah, di saat itu lah Ali yang sudah pernah melihat Ra menghilang lagi-lagi membuktikan kejeniusannya, bahwa selama ini ia tidak keliru. Bahkan ternyata Seli pun memiliki kekuatan yang tak kalah hebat dengan Ra.

.

Ali pun mengajak Ra dan Seli pergi dari tempat itu agar orang-orang tidak mencurigai atau sekedar menanyai mereka apa yang sebetulnya baru saja terjadi. Mereka bertiga bersembunyi di aula (yang biasa digunakan sekaligus menjadi lapangan).

.

Mereka yakin, saat itu adalah siang hari sebelum awan pekat seolah-olah menyedot terangnya sinar matahari. Atmosfer ruangan aula berubah menjadi senyap, gelap dan terdengar bunyi ‘PLOP’ –seperti gelembung pecah–.

.

Yang lebih mengagetkan lagi, dari celah kecil yang serupa gelembung tadi muncul delapan orang yang berpakaian serba gelap dan pemimpinnya adalah seseoang yang sudah pernah Ra temui sebelumnya yaitu Tamus.

.

Tamus dan rombongannya memaksa hendak menjemput Ra. Rupanya, Ra sudah menjadi incaran mereka (makhluk klan Bulan) sejak Ra lahir. Ra juga sudah dimata-matai oleh Tamus sejak ia berusia 9 tahun, melalui wujud seekor kucing yang selama ini dia sayangi dengan sangat, si hitam.

.

Bermaksud membela Ra, Seli dan Ali pun berkeras mempertahankan sahabat mereka. Di ujung pertahanan mereka sebagai anak-anak yang harus bertarung dengan sekelompok pasukan terlatih, munculah Miss Selena (guru matematika mereka) yang ternyata adalah juga seorang petarung dari klan Bulan. Miss Selena bertarung mati-matian melawan ke delapan orang itu.

.

Miss Selena meminta Ra, Seli dan Ali kabur melalui celah kecil yang dibuat oleh Miss Selena. Namun kemana mereka akhirnya sampai? Cling! Mereka tiba di sebuah negeri antah-berantah. Asing, serba canggih membuat mereka berpetualang namun sekaligus merindukan untuk pulang ke rumah (yang mereka biasa tempati) dimana itu adalah tempat para mahluk rendah tinggal. Seperti apa keseruan mereka berjumpa dengan para penduduk klan Bulan?

.

Review

Hallo, assalamualaikum gaes! Gimana menurut kalian setelah membaca sinopsis ala-ala aku ini? Seberapa kalian tertarik untuk membaca sains fiksi karya anak bangsa ini?

.

Pernahkah kalian mendengar tentang istilah dunia paralel? Jika belum, maka kalian akan diajak dan diberi penjelasan yang detail mengenai dunia paralel melalui sosok anak 15 tahun. Jadi sebetulnya materi yang ditawarkan dalam buku ini cukup berat, hanya saja penyampaian yang digunakan membuat novel ini terasa lebih ringan.

.

“Inilah empat dunia di atas satu planet yang kalian sebut bumi. Empat kehidupan yang berjalan serempak. Tidak ada yang tahu satu sama lain. Tidak saling melihat, tidak saling bersinggungan. Ini sebenarnya indah sekali tanpa ambisi perang dan saling menguasai. Empat dunia dalam satu tempat.” (Hal. 250)

.

Premis dalam cerita ini sangat menarik dan keren menurutku, karena serial bumi termasuk buku karya anak negeri yang menawarkan genre sains sekaligus fantasi, dan setiap bukunya cukup tebal. Aku tak sabar ingin segera menyelesaikan serial ini πŸ’™

.

Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini adalah Aku (sebagai Raib). Bagaimana emosi yang dialami Ra, serta merta bisa aku rasakan. Dukungan lain yang aku peroleh dalam novel ini adalah alur yang digunakan sepenuhnya maju.

.

Bukan hanya mengusung tema petualangan, buku ini juga menawarkan kisah persahabatan dan keluarga yang cukup komplek. Tentang siapa diri Raib sebetulnya. Tentang Ali yang berusaha mengungkapkan rasa sayang kepada kedua orangtuanya ketika dia merasa sudah di ujung rasa putus asa.

.

Pernahkah kamu membayangkan ada kehidupan lain di bumi ini? –bukan dunia lain– Tentu saja aku pernah, hanya saja seputar dunia Jin 😝. Nah, di buku ini kelas klan bumi dikatakan sebagai makhluk rendah dan paling terbelakang dibanding klan lain yang lebih hi-tech namun tetap ramah lingkungan. Semacam sindiran buat penduduk bumi yang agaknya serakah. Begitu, kasarannya.

.

Perasaanku ketika membaca buku ini? Senang as always ketika berhasil menyelesaikan sebuah buku, apalagi bukan genre favorit. Sedih, turut merasakan rasa ingin pulang, bertemu dengan orangtua tersayang ketika nggak tahu lagi aku berada dimana sekarang. Terpesona, sama seluruh rancangan kota klan bulan yang sepertinya indah namun tetap bersisian dengan alam.

.

Novel ini banyak memberi tahu, informatif. Mengajak untuk berpikir, sekaligus mengajak pembaca untuk berimajinasi. Terkesan berat ya? Ah, nggak kok aku tetap merasa terhibur. Secara keseluruhan aku menikmati jalannya cerita novel ini dan mungkin serial ini akan lebih dulu ku selesaikan ketimbang serial anak Nusantara yang belum aku miliki dua versi cetaknya.

.

Banyak kelebihan, tentu aja ada kekurangan ya? Kekurangan yang ingin aku sampaikan disini murni opiniku ya, jadi yang kurang sepakat mohon maaf. Yang pertama adalah penggunakan istilah “cucu dari cucunya cucuku” serta “kakek dari kakeknya kakekku”. Nah, ada semacam rasa susah merunut sebetulnya si Raib ini keturunan ke berapa dari klan matahari. Bikin mikir sih, dan mau nggak mau kan harus corat-cotet ya, tapi aku pikir itu terlalu susah 😬 *dasar males*.

.

Lanjut, yang kedua. Ternyata walau pun sama-sama tinggal di bumi setiap klan diceritakan memiliki bahasa sendiri. Jadi ketika terjadi percakapan antara penduduk klan bulan (yang menjadi tuan rumah) dengan Ra dan kedua sahabatnya, hanya Ra lah yang auto-mudeng bahasa mereka, karena Ra adalah keturunan klan bulan.

.

Tapi bukan Ali si jenius namanya kalau tidak bisa melakukan apa pun yang menurutnya mudah. Ali pun memutuskan mempelajari bahasa klan bulan. Bagaimana ya hasilnya?

.

Nah, sebelum part Ali bisa menggunakan bahasa klan bulan ada bagian yang mengesankan si Ali ini seolah bercakap-cakap dengan Ilo (tuan rumah klan bulan) tanpa bantuan Ra. Nah, agak miss-nya disitu.

.

Buku ini aku rekomendasikan buat kalian pecinta buku berseri, pecinta genre fantasi-sains fiksi, buat yang nggak suka buku Bang Tere (yang katanya menye-menye), buat penyukak petualangan, dan yang penasaran sama karya Bang Tere, mungkin buku ini bisa jadi permulaan. Selamat membaca πŸ’‹

.

Wah kemeng juga ternyata karena aku mengetik review ini memakai gawai. Apakah kalian tertarik membaca serial bumi karya Tere Liye? Ayo sharing disini πŸ’™

Review : Persimpangan – Hasan Aspahani

Judul : Persimpangan [Perjalanan Melupakan Kehilangan]

Penulis : Hasan Aspahani

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2019

Tebal : 206 Halaman

ISBN : 978-979-780-936-2

Harga : Rp 77.000,-

 

PicsArt_06-20-03.34.12

 

.

Sinopsis

Habel Rajavani adalah seorang yang passionate di bidang kepenulisan, khususnya jurnalistik. Dia melabuhkan hatinya pada sebuah majalah remaja “Halo” dan mendedikasikan dirinya sebagai reporter.

.

Namun, perubahan itu datang. Ketika semua beralih ke dunia digital, majalah yang sepeti “suaka” bagi Habel itu pun memilih untuk menerbitkan versi cetak dan hanya akan eksis dengan versi digital.

.

Bagi Habel, dengan segala ideologi yang terpatri dalam dirinya media daring saja tak akan pernah cukup. Ia memilih berhenti, patah hati dan memilih pergi. Ia bertekad mengobati rasa sakitnya dengan menjumpai lebih banyak orang. Kemana Habel akan pergi ketika ada seseorang yang lebih dari layak untuk diperjuangkan mau menunggunya?

.

Review

Di kesempatan pertamaku membaca karya Mas Hasan ini aku bisa bilang novel ini cukup berbobot. Aku pikir buku ini bakal seperti romance kebanyakan, tapi ternyata buku lebih hidup dan berbicara tentang banyak hal.

.

Tema yang ditawarkan dalam novel ini adalah perjalanan. Nah, beberapa topik yang diusung tentang keluarga, persahabatan, cinta, sejarah, sastra, lingkungan, dan kehidupan sosial.

.

Gaya bahasa yang digunakan Mas Hasan cukup nyastra, indah di telinga dan setiap bab dari buku ini aku diajak untuk sedikit berkenalan dengan puisi-puisinya yang sudah bertebaran di jagat maya.

.

Alur yang digunakan dalam novel ini sepenuhnya maju, cerita kilas balik diceritakan di beberapa bagian khususnya untuk mengenang masa kecil Habel.

.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, dengan penulis sebagai pencerita.

.

Karakter dalam novel cukup kuat. Dan kalau aku boleh bilang hanya ada tokoh tunggal yang sangat menawan dengan keseharian dan kegiatannya. Ia menganggap orang lain hanya sebagai teman bicara.

.
Sebagai seorang yang bisa dibilang slow reader, novel ini cukup membuatku terhipnotis. Hanya butuh beberapa jam saja untuk menghabiskannya.

.
Kalau aku nggak salah, Mas Hasan banyak memberi sentuhan personel dalam novelnya ini. Jadi apa yang menjadi kesukaan Mas Hasan dimasukkan ke dalam karakter si Habel.
.

QoTD : apa sih berpetualang menurut mu?

Ini jawaban menurut Habel :

“Berpetualang, bertemu orang-orang dalam skenario yang random, benar-benar memperkaya batin Habel. Setiap seorang manusia, seorang dari tujuh miliar lebih manusia lainnya yang mendiami dunia hari ini adalah manusia yang unik. Yang membawa dan menyimpan kisah masing-masing, kisah-kisah yang unik. Yang kita perlukan hanyalah kemauan membuka diri, membiarkan mereka berkisah dan kesediaan mendengar kisah mereka itu.” (Hal. 117)
.

Buku ini aku rekomendasikan buat kalian yang suka kisah Travelling, sastra, pecinta lingkungan dan isu sosial. Buatku, buku ini ringan sekaligus berat di waktu yang sama. Ringan dari cara Mas Hasan bercerita, namun kalau ditimbang yakin buku ini akan sangat berbobot.

Hari Buku Nasional ; Ayo pinjam buku gratis !

Hallo, assalamualaikum semua ❀️.

Nggak terasa ya Ramadan sudah 11 hari meninggalkan kita, nah gimana puasa dan ibadah spesial bulan Ramadannya? Semoga semakin kuat, dan kelak ketika Ramadan sudah lewat tidak lupa untuk tetap konsisten dalam mempertahankan ibadahnya ya 😊

Hari apa ini? Jumat, tepatnya tanggal 17 Mei 2019. Ada apa dengan hari ini? Ada hari buku nasional yang digadang-gadang bisa membawa pengaruh positif kepada seluruh masyarakat indonesia.

Banyak melihat akun bookstagram/book influencer lantas sering membuat saya lupa, bahwa minat baca di Indonesia itu cukup tinggi, karena saya merasa pergaulan saya semakin luas, tapi nyatanya saya justru bergaul dengan orang yang memang suka buku dan mengikuti perkembangan industri buku di Indonesia.

Padahal kenyataan berbicara lain, melihat data dari beberapa waktu lalu yang saya temukan ada beberapa yang membuat saya cukup tersentil. Wah serendah itukah minat baca kita? Semoga sih akan ada banyak survei yang terus dilakukan guna memperbarui seberapa besar minat baca pada umumnya di negara kita tercinta ini.

Ngomong-ngomong soal minat baca, saya akan kasih salah tips untuk kita selalu dekat dengan buku, tanpa kita perlu membawa buku. Wah menarik ya? Teman-teman kalau bepergian lebih suka bawa handphone atau buku?

Nggak ada yang salah dengan jawaban alternatif satu (membawa buku) dan alternatif dua (membawa handphone). Karena semuanya bisa kok tetap berhubungan dengan buku meskipun nggak bawa buku.

Ah yang bener? Iya, bener banget. Teman-teman bisa memanfaatkan aplikasi ijak dan ipusnas sebagai salah satu alat peminjam buku tetmutakhir. Banyak sekali jenis buku yang bisa dipinjam. Dari dalam dan luar negeri. Semua genre pun bisa dicari, nggak cuma itu semua bisa dinikmati dengan gratis asalkan teman-teman terhubung dengan fasilitas internet.

Nggak enak donk baca lewat handphone? Nah, memang benar nggak semua orang bisa enjoy membaca via handphone. Tapi nggak seburuk itu juga kok, menurutku. Saya baru menerima curhat seorang teman yang dulu suka baca buku, sekarang suka baca status. Nah, beda di obyek bacaan doank kan?

Lebih bermanfaat mana kira-kira? Tentu saja membaca status pun bermanfaat asalkan kita bisa memilah dan memilih status teman kita. Namun, buku adalah sebuah dunia yang tentu saja menawarkan infomasi yang sangat padat bukan?

Memang sih, masih ada beberapa kelemahan pada ijak dan ipusnas, tapi kita sebagai user bisa langsung memberikan feedback di playstore. Semoga feedback dari kita benar-benar menjadi bahan evaluasi bagi tim, untuk dapat meningkatkan kualitas dari kedua aplikasi baca tersebut.

Kendala apa sih yang bakal sering kita temui dengan kedua aplikasi ini?

1. Bakal sering log-out sendiri. Meski pun nggak selalu demikian, ini sering terjadi ya. Jadi tetap ingat email (yang dipakai untuk mendaftar) beserta password-nya.

2. Jangka waktu yang cukup pendek (hanya 3 hari). Teman-teman bisa melihat kok berapa jatah hari yang tersisa pada setiap buku yang dipinjam.

3. Sudah di download, tapi nggak tersimpan. Beberapa kali sih mengalami hal serupa, tapi karena saya penasaran maka meski mengganggu hal itu tetap saya usahakan.

Nah, kira-kira begitu ya teman-teman. Bagi yang ingin membaca via aplikasi di handphone bisa download ijak dan ipusnas. Selamat membaca, jangan lupa bagikan pengalamanmu di akun media sosialmu ya ❀️

Review Katarsis – Anastasia Aemilia : Kisah Pembunuh Berdarah Dingin bernama Tara


Judul : Katarsis
Penulis : Anastasia Emilia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2013
Tebal : 272 Halaman
ISBN : 968-602-062-6703
Rating : 4.5 ⭐

Blurb
Ka.tar.sis : n (Psi) cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas ; (Sas) Kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.
Seluruh keluarganya tewas dalam pembunuhan sadis, sementara Tara ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kotak perkakas kayu. Dengan bantuan Alfons, psikiaternya, polisi berusaha menemukan sang pembunuh lewat Tara yang mengalami trauma berat. Teka-teki pembunuhan ini makin membingungkan setelah muncul Ello, pria teman masa kecil Tara. Kematian demi kematian meninggalkan makin banyak tanda tanya. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

Review
Novel ini dibuka dengan sangat baik oleh penulis , berita pada kolom koran yang menginformasikan tentang pembantaian sadis sebuah keluarga berlatar di Kota Bandung pada September 2006. Saya dibuat merinding akan fakta bahwa saya tinggal di Bandung dan sedikit tahu daerah tersebut.

Adalah seorang Tara Johandi, ia memiliki problem dengan dirinya sendiri namun tidak pernah terbaca oleh kedua orangtuanya sejak ia berusia lima tahun. Ia adalah seorang sosiopat sekaligus psikopat cilik yang digambarkan dengan sangat baik, ia bisa mengelabui orang dengan mimiknya, sangat manipulatif.

Diceritakan sebuah kondisi dimana suatu malam gigi susu Tara tanggal, dan dia mengalami kepanikan luar biasa dengan berteriak tak sabar untuk memanggil kedua orangtuanya. Alih-alih memanggil Mama atau Papa yang ia teriakkan justru β€œTari! Tari! Tari!” untuk memanggil sang mama, namun Barra (Papa Tara) yang digambarkan memiliki badan besar dengan tatapan nyalang datang menghampirinya, kemudian menanggapi :
β€œSudah berapa kali papa bilang! Jangan panggil orangtuamu dengan nama!” (Hal. 34)

Siapa sangka proses gigi susu yang tanggal itu berbuntut kematian? Karena merasa tidak lagi mampu untuk merawat Tara, ia dititipkan kepada keluarga sang adik dari papanya, yakni Arif. Istri Arif bernama Sasi, ia berperangai lembut seperti Tari, namun satu hal yang membuat Tara nyaman tinggal di keluarga ini adalah karena Arif mau pun Sasi tidak pernah memaksa Tara untuk memanggil mereka dengan sebutan Mama atau Papa, pun dengan mereka yang lebih sering memanggil Tara dengan sebutan Nak. Tara tidak pernah menyukai namanya ; tidak ketika nama itu merupakan gabungan antara nama kedua orangtuanya yakni Tari dan Barra.

Pasangan Arif dan Sasi memiliki seorang anak bernama Moses. Selisih usia Moses dan Tara saat itu adalah 7 tahun, dimana ketika Tara berusia 5 tahun Moses berusia 12 tahun. Moses tidak hanya memiliki perangai yang sama dengan Tara, namun juga memiliki badan besar semacam Arif dan Bara. Sangat intimidatif secara perawakan dan juga tatapan.

Pada sebuah kesempatan Tara dan keluarga Arif berjalan-jalan di taman, Tara yang dipercaya sebagai seorang yang baik oleh Arif dan Sasi mulai menunjukkan wujud aslinya. Melihat seorang anak di taman seusianya yang bermain dengan sekop dewasa –berbahan logam–, memancing gairah yang ada pada diri Tara. Gairah untuk menghabisi nyawa seseorang. Mengulang suksesnya yang kedua. Namun, kejadian ini seolah tertutup begitu saja, tertutup oleh plot yang rapat. Sampai di bagian ini, saya belum percaya bahwa Tara adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Pada saat Arif membelikan sepeda untuk Tara, Baik Arif mau pun Sasi meminta Moses untuk mengajarinya menaiki sepeda. Namun apa yang dilakukan Moses? Ia mendorong sepeda Tara kuat-kuat pada saat berada di turunan, sehingga membuat Tara jatuh dan terluka. Lukanya memang tak seberapa, tapi tetap menimbulkan darah. Tara tidak pernah takut darah, tidak saat seolah ada jiwa lain yang bersemanyam di jiwa anak kecil yang tampak polos dan lugu itu.

Saat sedang merasakan kesakitan, Tara justru bingung menyusun ekspresi. Haruskah ia menangis seperti anak kecil pada umumnya? Dan begitulah hal itu dilakukan bukan untuk menangisi tubuhnya yang kesakitan, tapi untuk menarik simpati seorang anak lelaki yang mendekat kepadanya. Ia adalah Marcello Ponty (Ello). Dengan wajah yang teduh Ello mengulurkan sebuah koin 5 Rupiah untuk meredam rasa sakit pada diri Tara.
β€œIni pegang. Mamaku bilang kalau lagi sakit, kita harus pegang koin ini supaya sakitnya berkurang. Jangan kau hilangkan ya, jaga koinku baik-baik.” (Hal. 39)

Dari kejadian demi kejadian, dan koin itu seolah selalu menjadi obat penenang bagi Tara. Tara yang minim ekspresi, bahkan sangat datar memancing rasa curiga pasangan Arif dan Sasi. Dan mereka memutuskan untuk membawa Tara ke psikiater. Disitulah awal mula ia bertemu Alfons, sosok yang untuk pertama kali menawarinya menjalin hubungan pertemanan, bukan sekedar dokter dan pasien.

Begitulah, cerita ini berlanjut menjadi cerita yang menyedot perhatian, turut merasakan sensasi sebagai seorang pembunuh, bahkan pemutilasi, terlebih lagi karena sudut pandang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama. Setiap penulis memunculkan sosok baru seolah memerintahkan untuk menuduh orang itu adalah pembunuh yang sedang menjadi buron itu, jangan-jangan dia pembunuhnya ; dan berulang. Tapi satu kandidat yang saya yakini sebagai pelaku pembunuhan itu justru meleset jauh di akhir cerita.

Novel ini mengajak kita untuk cermat sekaligus menikmati plot yang cukup rapat. Jumlah tokoh dalam novel ini memang tidak seberapa, apalagi dikurangi orang-orang yang nantinya menjadi korban pembantaian sadis itu. Hanya satu orang yang akan bertahan di akhir cerita, dan bagaimana ia melalui kejadian demi kejadian itulah saya mengerti arti Katarsis yang sesungguhnya.

Novel ini sangat apik, apalagi mengusung genre psikologi thriller yang mana adalah sebuah hasil dari proses banting setir sang penulis yang pada awalnya menjadi kontributor dalam sebuah kumcer metropop berjudul Autumn Once More (karya Ilana Tan dkk). Untuk hasil debutan, novel ini sangat memuaskan, tidak berlebihan rasanya jika novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk dipasarkan di pasar internasional.

Jangan berharap alur yang runtut pada novel ini, sensasi melompat-lompat yang dihadirkan oleh penulis justru menjadi tantangan tersendiri buat saya. Dan saya cukup tertolong dengan penulisan untuk setiap bab yang hanya dua sampai 4 halaman saja. Bagaimana ya? Tegang, takut ingin segera menyudahi tiap bab, tapi penasaran.

Setting (kota) yang digunakan dalam adalah Bandung dan Jakarta. Setting waktu yang digunakan adalah 2006. Ada juga kisah pembunuhan berantai yang terjadi pada 1989 yang turut disebut dalam novel ini. Penggambaran rumah dengan cat yang sudah terkelupas, perkakas kayu, koin 5 Rupiah, dan aroma mint dalam novel ini sungguh memberikan sensasi tambahan yang mengerikan.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai